Nyasar ke kota subang, penuh misteri

Agu 03 2019

Nyasar ke kota subang, penuh misteri

Kota Subang menjadi sebuah kota yang memiliki lokasi strategis. Berjarak hanya 55 km dari kota Bandung. Dan plus minus 100km dari kota Cirebon di sebelah timurnya atau kota Jakarta pada sebelah baratnya. Jarak yang dulunya ditempuh dalam waktu kurang lebih 2-3 jam ini, saat ini dapat di tempuh hanya dalam waktu 1 jam perjalanan saja. Tentunya dengan menggunakan kendaraan dan melalui jalan tol trans Jawa.

Kebetulan saya memiliki sebuah kantor kecil perusahaan Asuransi Jiwa di kota Subang. Sehingga perjalanan menuju kota Subang sangat sering saya lakuin. Tapi ya, hanya sebatas perjalanan bisnis saja. Jadi singkatnya hanya makan, kerja dan tidur.

Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk mencoba meng- explore keindahan kota Subang. Ya berikut ini merupakan kisah nyasar di kota Subang yang saya alami.

Menuju ke Gua Maria Tebar Kamulyan.

Jam masih menunjukkan pukul 09.00, dan kantor saya mengadakan kegiatan pada pukul 13.00 siang nanti. Setelah makan pagi saya masih ada waktu luang yang emang khusus mau saya gunakan untuk berkeliling kota Subang. Bermodal motor pinjaman kakak saya yang berdomisili di Subang, saya mengajak teman satu kantor saya yang sama – sama berasal dari kota Semarang untuk berkeliling.

Target kami hanya menghabiskan waktu sampai pukul 12.00 karena kami harus kembali ke kantor sebelum pukul 13.00. Maka kami memilih beberapa lokasi yang bisa di capai hanya beberapa menit dari jantung kota Subang. Oh ya, sekalian untuk kegiatan promosi, kantor kami ada di jln Panglejar. Berlogo PRUDENTIAL. Hehe, jadi apabila ada keinginan untuk bertanya mengenai asuransi jiwa dan seputarnya dapat langsung datang ke kantor kami.

Tujuan pertama kami menuju ke Gua Maria Tebar Kamulyan. Kebetulan karena kami nasrani, maka tidak ada salahnya untuk berdoa terlebih dahulu. Menuju ke Gua Maria Tebar Kamulyan, tidak lah sulit. Dari jantung kota Subang hanya berkisar 10 menit menuju ke jalan LetJen S.Parman kemudian setelah sampai pada pertigaan Jl Emo Kurniaatmaja berbelok ke kiri menuju ke gereja Protestan Di Indonesia Bagian Barat, lalu lanjutkan lurus sekitar 200 meter dan belok kanan menuju gereja katolik kristus raja. Nah Gua Maria nya terletak di belakang Gereja.

Begitu memarkirkan kuda besi di depan TK …. kami langsung berjalan menuju ke belakang Gereja untuk mendapati Gua Maria Tebar Kamulyan. Semua tampak rindang dan asri. Tapi pada saat ingin duduk berdoa, perut saya tampaknya sedikit bermasalah dengan lodeh sayur tadi pagi. Sehingga mau tidak mau kegiatan doa harus menunggu urusan yang tidak bisa di wakilkan itu.

Tapi setelah keluar dari toilet yang berada di samping pastoral Gereja, saya tidak kembali pada obyek utama Gua Marianya. Karena saya nyasar ke sebuah kolam yang dilengkapi dengan jembatan. Di akhir jembatan terdapat sebuah Gua dimana ada patung Bunda Maria sedang memeluk Tubuh Yesus yang telah mati Di kayu Salib. Saya memutuskan untuk berdiam diri disana.

Saya merenungi betapa sedihnya sang Bunda yang mendapati putranya meninggal dalam pelukannya.kita tuh bakal ‘miss’ someone when we just ‘missing’ them (bahasa inggris ‘miss’ – kangen itu juga bisa di artikan hilang = jadi kangen waktu mreka ud ilang). Jadi pagi itu saya juga itu berdoa semoga yang saat ini pergi, bisa kembali seperti Yesus yang pada hari ketiga bangkit kembali.

Setelah itu saya mengajak teman saya yang sudah menunggu saya di depan kuda kuda besi untuk melanjutkan kisah nyasar ini.

Akhirnya kami berdua menuju ke obyek wisata kedua, yang pastinya tidak menjauhi dari pusat kota Subang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul  11.00, masih tersisa kurang lebih 2 jam dari waktu meeting. Setelah berkendara kurang lebih 10 menit meninggalkan Gua Maria Tebar Kamulyan, kami telah tiba pada obyek wisata Bumi Wisata Ranggawulung.

Berjarak kurang lebih 100 meter dari penanda masuk kota Subang. Bumi perkemahan ranggawulung merupakan sebuah obyek wisata alam yang biasa di gunakan untuk kegiatan perkemahan. Awalnya kami mengharapkan sebuah pemandangan alam yang indah. Tentunya juga berhawa sejuk dan dibalut oleh kerindangan pepohonan.

Memasuki area Bumi perkemahan Ranggawulung kami sempat bingung. Biasanya di area bumi perkemahan, kami akan langsung mendapati sebidang tanah lapang yang biasanya digunakan untuk para penyasar untuk mendirikan tenda dan berkumpul. Namun tidak demikian dengan obyek wisata Bumi Ranggawulung ini. Kami menyusuri jalan yang beraspal dari pintu masuk hingga kami menemukan lagi pintu keluarnya dan belum ada tanah lapang yang biasa di gunakan untuk kegiatan perkemahan. Karena penasaran, maka kami memarkirkan motor kami di pinggir jalan yang beraspal dan kemudian mencoba menyusuri sebuah tangga batu. Sebagai gambaran, di sepanjang jalan beraspal terdapat banyak tangga menuju ke atas disisi kanan dan kiri yang tampaknya hanya bisa dilalui menggunakan kaki.

Berjarak kurang lebih 50 – 60 meter, akhirnya kami telah tiba di lokasi puncak. Pada puncaknya tangga batu ini terdapat sebuah makam kuno beserta sebuah pelataran. Makam ini merupakan makam dari Mbah Ranggawulung. Dari nama dan tahun yang tertera (1901), tampak makam ini adalah makam yang dikeramatkan oleh para penduduk sekitar. Juga dari kebersihan pelataran makam yang terlihat selalu dijaga dengan baik. Tampaknya juga pelataran ini sering digunakan untuk kegiatan bersemedi.

 

 

 

Kemudian setelah puas mengambil beberapa gambar, kami kembali menyusuri tangga batu dan turun kebawah menuju ke motor kami di parkirkan. Selanjutnya kami kembali menyusuri sebuah tanjakan yang kali ini bukan merupakan tangga batu namun lebih seperti jalan setapak yang sering dilalui orang.

Berjarak kurang lebih 100 meter setelah menyusuri jalan setapak yang menanjak naik itu. Kami baru menyadari ternyata pada bumi perkemahan Ranggawulung ini terdapat banyak makam yang keramat. Di ujung jalan setapak yang menanjak itu juga terdapat sebuah makam, yang disertai dengan pelataran. Namun kami tidak menemukan adanya nama atau tahun pada makam tersebut.  Sama dengan yang pertama, kami hanya mengambil gambar dan kemudian kembali turun.

 

Kemudian saya memutuskan untuk kembali menyusuri jalan setapak yang menanjak, kali ini letaknya berhadapan dengan makam yang kedua. Teman saya memutuskan untuk tidak ikut dan menunggu di bawah. Sesampainya di atas, saya dapat melihat lokasi makam yang pertama dari lokasi saya berdiri. Dan nampak oleh saya ada bekas ember dan gayung yang biasa di pakai sebagai ritual mandi kembang. Jadi akhirnya kami mengambil kesimpulan bahwa Bumi Perkemahan Ranggawulung ini merupakan sebuah tempat ritual yang dikeramatkan. Seketika bulu kuduk saya berdiri dan kami memutuskan untuk meninggalkan obyek wisata itu.

Kemudian kami menyusuri kembali jalan masuk kami untuk kembali ke jalan raya. Namun demikian kami salah mengambil jalan.Pada pertigaan yang harusnya langsung membawa kami ke jalan raya, kami salah belok sehingga membawa kami lebih masuk ke dalam hutan. Akhirnya setelah 30 menit kami menyusuri jalan menggunakan motor kami, kami dapat kembali menuju jalan raya. Oya, dalam perjalanan kami kesasar tadi, kami menemukan sebidang tanah luas yang dapat digunakan untuk kegiatan perkemahan. Dan lokasinya berbeda dari lokasi- lokasi makam keramat keramat tadi.

 

 

Setelah kembali ke kantor, barulah kami mendapatkan informasi bahwa lokasi yang barusan kami sasar itu merupakan lokasi angker dan sering di pakai ritual untuk mencari wangsit atau pesugihan. Hiiiiiiii.

Leave a Reply

Your email address will not be published.