Salah Jalur Di Gunung Lawu

Salah Jalur Di Gunung Lawu
Jul 28 2017

Salah Jalur Di Gunung Lawu

Perkelanku dengan Gunung mungkin agak lucu dan terkesan memaksakan, tapi mungkin dari hal inilah mencintai dan menghormati alam bisa ku tanamkan di hatiku dalam dalam . Alam selalu punya caranya menegur sikap kita, alam selalu punya cara membuat kita sadar bahwa kita hanya kecil di hadapNya. Sore itu disela sela hujan kami harus meneruskan perjalanan karena semua bawaan sudah kami sediakan. Mulai dari sewa tenda, peralatan masak, sleeping bag, dan logistik untuk pendakian pertama yaitu Gunung Lawu.

Berangkat dengan sepuluh personil yang mayoritas awam akan Gunung kami mencoba memilah jalur pendakian, Cemoro kandang atau cemoro sewu. saat itu jalur candi cetho tidak begitu populer karena jauh. Akhirnya kami memilih jalur yang tercepat, menanjak tapi cepat. Yups cemoro sewu.Udara dingin dan hujan menyelimuti perjalanan, sesekali kami tanya jalan pada penduduk. Singkat cerita kami sampai dikaki gunung lawu dan mencari basecamp Cemoro Sewu, tapi mondar mandir naik turun basecamp tidak ketemu. Yang ada adalah cemoro kandang. Oke tak apa pikirku..

Jam sepuluh malam kami mulai start, begitu kesepakatannya. Sampai di cemara kandang pukul delapan lebih kita bisa istirahat dulu, isi perut dan berganti pakaian hangat. Hujan masih rintik rintik, kopi dan mie rebus jadi solusi menghangatkan diri malam ini. Dirasa cukup kami berkumpul dan berdoa agar pendakian ini berjalan lancar, yang terpenting adalah pulang dengan selamat, puncak hanyalah bonus.

Perjalanan ke gunung lawu dimulai, melewati hutan gelap gelap dan gelap. Berjalan terus, jaket pun kulepas karena keringat yang mulai bercucuran takut masuk angin, maklum udara begitu dingin. Tips aja kalau break / istirahat dengan posisi diam jangan lama lama. Lawu memang terkenal akan udara dinginnya yang menusuk. Post satu telah lewat, post dua masih jauh. Diperjalanan kabut mulai turun, beberapa teman cewek mulai kedinginan hebat.. mereka terus meminta istirahat. Post dua akhirnya tergapai, kami istirahat cukup lama. Ini yang paling bikin emosi hehe jarak antara post II ke post III yang jauh banget, sampe sampe ada post bayangannya.

Karena sampai di post III terlalu malam sekitar pukul satu dini hari, kami putuskan untuk bermalam di sini. Terlebih di post III pengik ini ada gubuk bangunan semi permanen untuk bermalam. Lumayan juga kami menghangatkan diri di balik tembok. Angin terasa menyayat kuli, dingin nya minta ampun hingga mata ini terpejam dengan sendirinya.

Pagi datang, pemandangan yang indah pun tersaji di pos III, kami bisa lihat kebawah dan rumah rumah warga juga mungkin telaga sarangan dari sini. Tapi kami tak bisa lama lama, kami harus bergegas sarapan dan melanjutkan perjalanan kepuncak. Perjalanan di pagi hari lebih mengasikkan dari pada malam hari, karena apa? pemandangannya hehe . Pos berikutnya adalah cokro suryo. Tanah lapang yang mempesona.

puncak gunung lawu

Selanjutnya adalah persimpangan dan kemudian jalan menanjak, yang bila toleh kanan adalah kawah condrodimuko, merinding banget deh … alhamdulilahnya disini ada sinyal hehe. Akhirnya setelah hampir satu hari kami sampai di puncak hargodumilah pukul dua belas siang.

Dengan ketinggian 3.265 mdpl yang bisa kita lihat adalah putih putih dan putih hehe , tapi berfoto di puncak gunung lawu menjadi kenangan yang bisa diceritakan dilain waktu, walau salah jalur pendakian tapi nyatanya malah menyajikan petualangan yang asyik. Untuk pulang kami pilih jalur cemoro sewu , ya biar sekalian ngerasain dua jalurnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.