Arsitektur Candi Borobudur

  • Gapura Kalamakara
  • Boddhisativa

Description

Description

Arsitektur Candi Borobudur

Candi Borobudur yang terkenal sebagai Candi/ Monumen Budha yang terbesar dan termegah di seluruh dunia ini memiliki beberapa keunikan khusus. Candi ini tidak di bangun di dataran yang lapang dan rendah pada awalnya namun Candi Borobudur dulunya di bangun di tengah danau purba. Tepatnya di atas bukit dengan ketinggian 265 meter dari permukaan laut dan 15 meter di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20; dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau. Pada tahun 1931, seorang seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. arsitektur borobudur secara lengkap akan kita bahas disini.

Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. sering kali digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha Mahayana. Sesuai dengan kepercayaan wangsa Sailendra pada jaman itu. Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Banyak bukti yang menunjukkan adanya danau purba di lingkungan sekitar Candi Borobudur, salah satunya adalah uji endapan sedimen lumpur yang dilakukan pada tahun 2000.

Boddhisativa

Di komplek Candi Borobudur ini sendiri banyak di temukan Stupa Budha. Yaitu bangunan atau susunan batuan yang menyerupai genta yang ada di candi peninggalan agama Buddha, atau biasanya merupakan bangunan suci agama Buddha (tempat menyimpan relik atau benda-benda suci sang Buddha). Stupa terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian dasar yang berbentuk membulat disebut anda, bagian tengah yang disebut yasti, sedang pagar yang mengelilinginya disebut harmika, dan bagian puncak yang berupa payung disebut chatra. Stupa adalah perlambangan dari tempat penyimpanan abu jenazah Buddha Ghautama. Stupa yang terdapat di Candi Borobudur berupa stupa pada pagar langkan, stupa terawang belah ketupat, stupa terawang bujur sangkar, dan stupa induk. Candi Borobudur mempunyai 72 buah stupa pada tiga lantai teratas dengan stupa besar yang menjadi pusatnya. Ke-72 stupa tersebut merupakan stupa berlubang yang mempunyai rongga di dalamnya dan berisikan arca Buddha. Pada lantai 8, bentuk lubang pada stupa adalah kotak, sedangkan pada lantai 9 – 10 bentuk lubangnya adalah belah ketupat. Stupa induk tidak terdapat rongga di dalamnya. Selain 72 stupa di lantai teratas, Borobudur mempunyai stupa-stupa kecil pada kemuncak pagar langkan di lantai 3 – 7.

stupa pusat

Diperkirakan pada masa pembangunannya Candi Borobudur memiliki rancangan awal dengan mendirikan sebuah stupa tunggal raksasa tepat di tengah dan di bangunan paling tinggi di atas Candi, namun mungkin karena berat stupa raksasa yang sangat besar ini akan membahayakan bangunan Candi maka sang perancang mengubahnya menjadi 3 Stupa berukuran kecil dan 1 Stupa induk seperti saat ini.  Candi Borobudur ini di perkirakan  memiliki 4 tahapan pembangunan, yaitu:

 

Tahap pertama:

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah.Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.

Tahap kedua:

Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.

Tahap ketiga:

Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk.Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu

Tahap keempat:

Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.

Sedangkan inti dari Candi Borobudur sendiri di bagi menurut kosmologi Budha. Secara filosofis arupadhatu ranah wujud adalah salah satu dari tiga ranah (Sanskerta:dhātu) atau tiga dunia (Sanskerta: triloka) dalam kosmologi (konsep alam semesta) Buddhisme, dimana jiwa berkelana dari satu tubuh ke tubuh lain dalam rangkaian reinkarnasi (kelahiran kembali) dalam lingkaran Samsara.  Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Berikut merupakan penjelasan dari ketiga tingkatan tersebut :

Kamadhatu adalah tingkatan paling bawah dari tingkatan kosmologi Buddha yaitu manusia yang masih dikuasai nafsu dan hasrat. Tingkat kamadhatu pada Candi Borobudur merupakan bagian kaki candi. Kaki Candi Borobudur yang kita lihat saat ini bukanlah kaki aslinya pada saat di bangun pertama kali. Bagian kaki candi saat ini Bsebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik

Rupadhatu yaitu tingkatan kedua dari tingkatan kosmologi Buddhis mewakili dunia antara. Tingkatan ini adalah simbol unsur tak berwujud yang menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, akan tetapi masih terikat oleh dunia nyata. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas.Tingkat rupadhatu juga disebut sebagai bagian tubuh Candi Borobudur. Pada bagian tersebut dijumpai beberapa ornamen arsitektual candi diantaranya, gapura kala makara, relung arca, arca Buddha, jaladwara, ghana, keben, stupa berukuran kecil, dan relief cerita. Terdapat 1.212 relief dekoratif simbolis dan 1.300 relief cerita. Relief cerita yang dimaksud adalah relief Lalitavistara, Jataka Avadana, dan Gandawyuha. Secara arsitektural bagian rupadhatu Candi Borobudur berbentuk persegi dengan konfigurasi yang berpola cruciform.

Gapura Kalamakara

Arupadhatu

Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat. Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief.

Tingkatan yang tertinggi digambarkan dengan meniadakan patung di Stupa yang polos tanpa lubang – lubang dan merupakan stupa yang terbesar di Candi Borobudur. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.

Dan seluruh dinding Candi Borobudur memiliki relief kecuali pada dinding Arupadhatu. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, sering kali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut “lekuk tiga” yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.

Tribhanga

Candi Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan bahari purbakala.

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka (kumpulan cerita tentang kehidupan-kehidupan sang Buddha ketika masih berwujud hewan, sebelum beliau menitis menjadi Siddharta Gautama). Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Nah menarik juga ya mengenal sedikit mengenai Candi Borobudur. Bagi para penyasar yang ingin mengerti lebih detail tentang Candi Borobudur dapat juga mengunjungi Museum Candi Borobudur yang ada di kompleks Candi Borobudur. Sampai disini pembahasan kita mengenai arsitektur Candi Borobudur. Sampai Jumpa di lain kesempatan, tetap sehat, tetap ceria dan salam nyasar selalu.

 

Contact

Contact
  • Address
    Jl. Badrawati, Kw. Candi Borobudur, Borobudur, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
  • Category
    Oldies
  • Location
    Jawa Tengah
  • Tags
    arca, Arsitek, arsitektur, borobudur, buddha, candi, cerita, jawa tengah, magelang, relief, yogyakarta

Informasi tambahan

Informasi tambahan
  • Jam Buka
    06:00-17:00
  • Harga
    40k-125k
  • Koneksi Internet
    4G
  • Situasi
    Megah

Location

Arsitektur Candi Borobudur
Get directions

Contact

Arsitektur Candi Borobudur
  • By Denny Tamtama
  • Email: opleh@hotmail.com

Ratings

Arsitektur Candi Borobudur

Apa Kata Mereka

0

0 Total
Review dan rating merupakan penilaian subjektif.
Tim Suka Nyasar tidak melakukan review eksklusif dan sepihak.
Pelayanan
0.0%
Lokasi
0.0%
Kualitas
0.0%
Fasilitas
0.0%
Tingkat Kesulitan
0.0%