Candi Borobudur, Candi Budha Terbesar di Indonesia

Description

Description

Candi Borobudur merupakan Candi Budha terbesar di Indonesia. Dan Bahkan pada tahun 2012 tercatat pada Guinness World Records, Candi Borobudur merupakan Candi Budha terbesar di seluruh dunia. Candi yang di bangun pada abad ke 9 ini juga merupakan situs warisan dunia menurut UNESCO.

Candi Borobudur terletak pada Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Atau pada tepatnya terletak di atas bukit pada dataran yang dikeliling dua pasang gunung kembar; Gunung SindoroSumbing di sebelah barat laut dan MerbabuMerapi di sebelah timur laut, di sebelah utaranya terdapat bukit Tidar, lebih dekat di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta candi ini terletak dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.

Candi ini mulai di bangun pada masa pemerintahan Sailendra yang merupakan pemegang kekuasaan pada jaman kerajaan Sriwijaya. Wangsa Sailendra ini merupakan penganut agama Budha Mahayana yang berasal dari India.  Daftar manifestasi wangsa Sailendra ini banyak di temukan di dataran kedu ( wilayah dataran vulkanik subur yang dikelilingi gunung-gunung berapi di Jawa Tengah, Indonesia; yaitu Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro di barat, Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di timur, dan perbukitan Menoreh di selatan) dan yang terbesar adalah Candi Borobudur.

Asal usul Candi Borobudur

Nama Candi Borobudur pertama kali di perkenalkan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Dalam bukunya yang di beri judul ‘Sejarah Pulau Jawa’,Sir Thomas Stamford Raffles menuliskan sebuah monumen yang bernama Borobudur. Tidak diketemukan dokumen lain selain buku tulisan Raffles tersebut di tahun 1814. Namun kemudian ditemukan juga sebuah naskah jawa kuno yang menyebutkan mengenai sebuah bangunan suci Budha yang besar yang mungkin merujuk pada Candi Borobudur pada naskah kuno ‘Kakawin Nagarakretagama’ yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.

Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang sering kali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah ‘Budur’ mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti “purba”– maka bermakna, “Boro purba”. Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarah Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi yang belum dapat dijelaskan oleh siapa didirikan dan fungsi dari kegunaannya pada masa tersebut. Hal ini dikarenakan belum diketemukan catatan sejarah yang menjelaskan hal tersebut.  Waktu pembangunannya di perkirakan dari jenis aksara yang paling kuno yang terdapat pada Candi Borobudur yang merupakan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan pada abad ke 8 dan abad ke 9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 – 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.

Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kala itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi melalui temuan prasasti Sojomerto (sebuah prasasti kuno peninggalan wangsa sailendra yang di ketemukan di Desa Sojomerto) menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Maka tak heran dalam kurun waktu tersebut banyak di bangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.

Dalam prasasti Canggal (sebuah prasasti kuno berbentuk candra sengkalan/ sandi penulisan pada tahun 732 Masehi) disebutkan pada jaman tersebut Raja Sanjaya yang beragama Hindu Siwa memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km sebelah timur dari Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudah rampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.

Pembangunan candi-candi Buddha ,pada  saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa (Hindu).  Yang pada akhirnya dimenangkan oleh wangsa Sanjaya melalui pertempuran di bukit Ratu Boko.

Ketidakjelasan asal usul  juga timbul mengenai Candi Prambanan, candi megah yang dipercaya dibangun oleh Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra. Akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Candi  Borobudur terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Candi ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur dan memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya para peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.  Penjelasan mengenai Arsitektur Candi Borobudur dapat di baca pada artikel Arsitektur Candi Borobudur.

Selain menjadi pusat keagamaan dan pusat ziarah umat Budha dari seluruh Dunia. Candi Borobudur merupakan salah satu obyek wisata unggulan di pulau Jawa. Di sini banyak di lakukan juga aktifitas pariwisata seperti pagelaran sendratari ‘Mahakarya Borobudur’ ,  namun yang paling terkini, pengelola Candi Borobudur (PT. TWC – Taman Wisata Candi ) yang juga merupakan pengelola dari Candi Prambandan dan Candi Ratu Boko menawarkan konsep paket wisata yang berbasis ‘ready for safe tourism’ di masa new normal ( era adaptasi kebiasaan baru) pasca pandemi covid 19 ini. Paket wisata yang di beri nama ‘Dagi Abhinaya Picnic Breakfast’ adalah sebuah paket wisata di mana para wisatawan diajak untuk menikmati makan pagi khas Manohara Resto di venue Dagi Abhinaya, kompleks Candi Borobudur secara outdoor. Pengunjung bisa sambil menikmati keindahan view Candi Borobudur, Perbukitan Menoreh, Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan pepohonan Pinus.

Menu – menu makanannya pun diatur sesuai makanan khas Jawa Tengah yang mengandung banyak nilai filosofinya. Juga tak lupa para pelayannya akan menggunakan pakaian adat Jawa, jadi pastinya akan melahirkan sebuah pengalaman baru yang unik bagi para penyasar.Tentunya pihak pengelola juga menyiapkan pengunjung dan para pelayan untuk menaati protokol kesehatan yang berlaku. Yaitu dengan mewajibkan para pelayan menggunakan masker, face shield dan sarung tangan, dan para pengunjung juga akan di cek suhu tubuhnya dan di jaga jarak aman antara meja pikniknya. Salam sehat, salam sukses dan tentunya salam nyasar selalu.

Contact

Contact
  • Address
    Jl. Badrawati, Kw. Candi Borobudur, Borobudur, Kec. Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
  • Category
    Oldies
  • Location
    Jawa Tengah
  • Tags
    arupadhatu, borobudur, budha, candi, gunung, jawa tengah, kamadhatu, magelang, rupadhatu, sindoro, stupa, sumbing, yogyakarta

Informasi tambahan

Informasi tambahan
  • Jam Buka
    06:00-17:00
  • Harga
    40.000-125.000
  • Koneksi Internet
    4G
  • Situasi
    Alami

Location

Candi Borobudur, Candi Budha Terbesar di Indonesia
Get directions

Contact

Candi Borobudur, Candi Budha Terbesar di Indonesia
  • By Denny Tamtama
  • Email: opleh@hotmail.com

Ratings

Candi Borobudur, Candi Budha Terbesar di Indonesia

Apa Kata Mereka

0

0 Total
Review dan rating merupakan penilaian subjektif.
Tim Suka Nyasar tidak melakukan review eksklusif dan sepihak.
Pelayanan
0.0%
Lokasi
0.0%
Kualitas
0.0%
Fasilitas
0.0%
Tingkat Kesulitan
0.0%