Gunung Merbabu, 3145 mdpl dengan 5 Jalur Pendakian

Description

Description

Puncak Gunung Merbabu

Mendaki gunung merupakan sebuah kegiatan wisata yang mulai di gandrungi oleh para penyasar dewasa ini. Salah satu gunung yang memiliki popularitas untuk aktivitas mendaki santainya adalah Gunung Merbabu. Gunung yang masih tergolong sebagai gunung berapi aktif ini terletak di wilayah administratif 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang pada lereng sebelah barat, Kabupaten Boyolali pada lereng sebelah timur dan selatan, kemudian Kabupaten Semarang pada lereng sebelah utaranya. Provinsinya Jawa Tengah.

Gunung Merbabu merupakan gunung yang sudah sangat tua. Dari naskah – naksah kuno disebut juga Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal yang pernah disinggahi oleh Bujangga Manik – yaitu seorang tokoh yang narasinya adalah seorang Prabu kerajaan Sunda yang berjalan mengelilingi Tanah Jawa dan Bali. Naskah kisah ini ditulis di daun Nipah / sejenis palem dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley (Universitas Oxford). Baru kemudian pada jaman penjajahan Belanda, gunung ini diberi nama sebagai Gunung Merbabu, yang merupakan gabungan kata “Meru” (Gunung) dan kata “Abu”(warna Abu – abu).

Gunung yang memiliki ketinggian 3.145 meter dari permukaan laut ini pernah meletus beberapa kali. Letusan terbesarnya dicatatkan pada tahun 1797. Gunung yang tingginya lebih dari 10 ribu kaki ini, memang memiliki tingkat medan kesulitan yang medium. Tidak berat bagi para pendaki pemula untuk mendaki gunung ini. Namun tentunya harus memperhatikan kondisi udara yang dingin, kabut yang tebal dan ketiadaan sumber air dan makanan. Selain itu tak kalah pentingnya para penyasar juga harus memperhatikan kepercayaan – kepercayaan masyarakat sekitar .

Masyarakat di sekitar Merbabu mayoritas beragama Budha sehingga akan ditemukan banyak vihara di sekitar lereng Merbabu. Juga tak jarang akan menemui beberapa penduduk yang sedang melakukan tapa di beberapa tempat yang dikeramatkan. Maka bagi para pendaki di harapkan tidak buang air sembarangan terutama pada Watu Gubug (Batu berlubang yang dapat dimasuki 5 orang di lereng Gunung) dan sekitar kawah. Selain itu para penyasar juga tidak diperkenankan untuk memakai baju berwarna merah ataupun hijau pada saat melakukan pendakian.

Menuju puncak merbabu ada beberapa jalur pendakian,beberapa yang sangat populer yaitu :

  1. Jalur Kopeng Thekelan

Jalur ini di dicapai melalui daerah wisata Kopeng yang berada pada kota Salatiga. Terletak kurang lebih 10 km dari kota Salatiga. Para penyasar yang ingin mendaki melalui jalur ini akan mendapati Pusat informasi pendakian Thekelan melalui Bumi perkemahan Umbul Songo.

Di Pos Thekelan ini, para penyasar juga dapat beristirahat untuk menunggu sampai malam hari tiba untuk melakukan pendakian.

Dari Pos Thekelan ini, para penyasar akan menyusuri kampung penduduk lokal menuju ke hutan pinus. Di Kampung Thekelan ini para penduduknya membiarkan para anak kecil memiliki rambut gimbal, sebagai syarat perlindungan dari mahluk – mahluk halus. Di tengah perjalan ini para penyasar akan melihat pemandangan yang sangat indah dari Gunung Telomoyo dan Rawa Pening.

Pos pertama dari 5 Pos akan dicapai setelah penyasar melewati jalan yang terjal dan sungai kering. Walau agak menantang namun penyasar akan dihibur oleh indahnya pemandangan kota Salatiga pada saat malam hari. Terlihat jelas dari sini. Kemudian dari Pos pertama menuju ke Pos Kedua, para penyasar akan melewati hutan.

Tantangan baru dimulai ketika perjalanan menuju ke Pos ketiga.  Jalur yang sudah mulai terbuka dan menanjak curam. Penyasar akan merasakan betapa kuatnya angin di tempat ini. Maka disarankan apabila sedang terjadi hujan badai, para penyasar di himbau untuk tidak melanjutkan perjalanan dari pos kedua menuju pos ketiga ini. Di jalur ini penyasar akan menemukan Watu Gubug yang konon merupakan gerbang menuju pintu kerajaan gaib.

Pos keempat atau yang biasa di sebut juga Pos Pemancar karena dipuncaknya terdapat pemancar Radio ini sejatinya adalah sebuah gunung. Gunung yang diberinama Gunung Watu Tulis ini memiliki ketinggian 2.896 dari permukaan laut. Perjalanan menuju pos keempat ini agak curam, berkerikil dan licin. Dan pada saat kering, anginnya yang kencang menerbangkan debu dan batu – batuan kecil yang dapat mengganggu pengelihatan.

Pos kelimanya ada di jalur turunan. Pemandangan sudah sangat indah disini. Dari sini pendaki juga dapat turun menuju ke kawah Gunung Merbabu atau yang biasa di sebut sebagai Kawah Condrodimuko. Setelah itu para penyasar dapat melanjutkan perjalanan menuju ke puncak dengan melewati suatu tanjakan yang curam dimana sisi kanan dan kirinya adalah jurang. Tanjakan ini biasa disebut dengan nama Jembatan Setan. Baru setelah itu para penyasar akan menemui persimpangan ke kiri menuju ke puncak Syarif (Gunung Pregodalem) atau ke kanan menuju Puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo). Dari puncak Kenteng songo, pendaki dapat memandang Gunung Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, tampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang kelihatan sangat jelas dan indah. Lebih dekat lagi tampak Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang siap mendorong pendaki setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 menurut penglihatan paranormal.

 

  1. Jalur Wekas

Jalur ini dapat dicapai dari Desa Wekas. Desa Wekas sendiri merupakan sebuah desa yang berjarak kurang lebih 9 kilometer dari Kopeng. Untuk mencapai desa ini, para penyasar dapat menggunakan angkutan umum dari kopeng menuju arah selatan sampai mencapai Kaponan (Gapura Desa Wekas). Dari sini para penyasar dapat berjalan kaki melewati jalan bebatuan sejauh 3 kilometer untuk mencapai Pos Pendakian Desa Wekas.

Jalur ini merupakan jalur yang popular di kalangan para pendaki pemula dikarenakan lajur pendakian yang lebih pendek dengan jalur yang datar. Dan di jalur wekas ini hanya memiliki 2 pos saja sebelum mencapai Puncak.

Perjalanan menuju Pos pertama memiliki jalan yang cukup lebar dengan landasan batu – batuan. Disekitarnya masih banyak ditemui lading atau kebun warga dengan berbagai macam tanaman dataran tinggi seperti kubis, wortel dan tembakau. Juga terdapat peternakan kelinci yang kotorannya dimanfaatkan kembali sebagai pupuk alami. Jarak tempuhnya dari desa Wekas mencapai 2 jam perjalanan. Pos pertama ini juga merupakan balai tempat peristirahatan. Di Pos pertama ini masih ditemukan banyak warung dan rumah penduduk yang tentunya memiliki banyak sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk membersihkan diri dan sebagai air minum.

Setelah melewati pos pertama, para penyasar akan kembali menyusuri jalan setapak yang di kanan kirinya masih terdapat ladang penduduk untuk kemudian memasuki hutan Pinus. Kemudian setelah jalan menanjak yang cukup terjal, para penyasar akan menemui sebuah lahan yang cukup lapang dimana Pos kedua berada. Di Pos kedua ini para penyasar dapat mendirikan tenda dan melakukan kegiatan camping disini. Pada hari – hari libur biasanya di tempat ini terdapat belasan bahkan puluhan tenda para penyasar – penyasar muda yang tergabung dalam kegiatan pencinta alam. Maka tak heran pada hari – hari tersebut banyak penduduk yang berdagang disana.

Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai di bawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak – puncak Gunung Merbabu.

Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

 

  1. Jalur Kopeng Cunthel

Untuk menuju ke desa Cuntel dapat ditempuh dari kota Salatiga menggunakan mini bus jurusan Salatiga Magelang turun di areal wisata Kopeng, tepatnya di Bumi perkemahan Umbul Songo. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menyusuri Jalan setapak berbatu yang agak lebar sejauh 2,5 km, di sebelah kiri adalah Bumi Perkemahan Umbul Songo. Setelah melewati Umbul Songo berbelok ke arah kiri, di sebelah kiri adalah hutan pinus setelah berjalan kira-kira 500 meter di sebelah kiri ada jalan setapak ke arah hutan pinus, jalur ini menuju ke desa Thekelan.

Desa Cuntel berada di ujung jalan berbatu. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Penyasar juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.

Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernapasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata. Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Pos Pemancar (Pos kelima pada jalur Kopeng Thekelan) menuju ke turunan Pos Helipad, disini pemandangannya sangat indah, di sebelah kanan terlihat gunung Kukusan, dimana puncaknya berwarna putih. Warna putihnya adalah hasil dari muntahan belerang yang telah mongering. Dan kemudian para penyasar akan menemukan kawah yang berwarna keputihan (kawah Condrodimuko) dan disekitarnya terdapat mata air. Disini penting bagi para penyasar untuk dapat membedakan air yang dapat diminum dan air yang mengandung belerang.

Setelah melalui Jembatan Setan, para penyasar kemudian akan menemui pesimpangan Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo.

 

  1. Jalur Selo

Jalur Selo ini merupakan jalur yang paling ramai dibandingkan dari semua jalur lainnya. Pemandangan yang indah dengan sabana yang menghampar membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan. Ditambah lagi dari jalur ini tetangga dekat gunung merbabu yaitu Merapi bisa terlihat dengan jelas.

Akses ke lokasi adalah dari kota Boyolali.  Untuk menuju ke Selo dari kota Boyolali menggunakan bus kecil jurusan Selo. Bus yang langsung ke Selo agak jarang biasanya hanya sampai Pasar Cepogo, dan dari pasar Cepogo ganti lagi bus kecil yang menuju Selo. Dari kota Boyolali bus kecil yang menuju Selo ini tidak parkir di terminal Boyolali. Penyasar harus sedikit berjalan kaki ke Pasar Sapi di mana bus kecil jurusan Cepogo/Selo berhenti mencari penumpang.

Awal pendakian, pendaki akan disambut gapura selamat datang dari Taman Nasional Gunung Merbabu. Memasuki pintu hutan suasana jalanan kiri kanan dipenuhi pohon pinus dan lamtoro, di siang haripun akan terasa sejuk. Jalanan masih cukup landai hingga 15 menit perjalanan. Setelah berjalan 1-1,5 jam sampailah di pos 1 atau biasa disebut sebegai pos Dok Malang Pos ini masih berada di rimbunnya pepohonan.

Selepas Dok Malang, trek belum lah terasa cukup curam, ada satu tanjakan yang lumayan terjal dan di puncaknya adalah pos bayangan. Baru setelah berjalan 20 menit dari pos bayangan pendaki akan sampai di pos 2 atau yang disebut sebagai Pos Pandean jarak dari pos Dok Malang menuju kesini bisa dibilang panjang.

Selanjutnya para penyasar dapat beristirahat di pos ketiga (Watu Tulis). Jarak antara pos kedua dan ketiga ini tidaklah panjang, selain itu pemandangan di pos ketiga ini sangatlah indah. Rimbunnya pohon – pohon edelweiss membuat para penyasar akan lebih betah berlama – lama di tempat ini.

Kemudian para penyasar akan melanjutkan perjalanan ke Pos Sabana1 (Pos keempat). Perjalanan dari Pos ketiga menuju ke Pos keempat sedikit berat dengan medan yang curam dan licin. Apabila pada musih penghujan, para penyasar dihimbau untuk lebih berhati – hati agar tidak tergelincir.

Dari Pos Sabana 1 menuju ke Pos Sabana 2 tidak lah jauh. Hanya 40 menit perjalanan saja. Di Pos ini, para penyasar yang ingin berkemah dapat mendirikan tenda disini karena terdapat lahan yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Jarak dari Pos kelima ini menuju puncak hanya 1,5 jam hingga 2 jam perjalanan saja. Maka apabila para penyasar ingin menikmati sunrise di puncak, hendaknya berangkat dari pos ini pada jam 3 pagi. Tapi jangan khawatir pada pendakian jalur Selo ini, para penyasar dapat menikmati sunrise sepanjang perjalanan. Tambahan catatan untuk para penyasar yang mendaki melalui jalur Selo ini harus mempersiapkan air minum yang cukup karena sepanjang perjalanan menuju ke puncak tidak terdapat sumber mata air.

 

  1. Jalur Suwanting

Jalur Suwanting adalah jalur yang pernah dibuka pada tahun 1990 dan 1998, namun setelah tahun 1998 jalur ini ditutup untuk pendakian dan baru awal tahun 2015 lalu jalur ini kembali dibuka. Jalur pendakian ini terletak di Dusun Suwanting Desa Banyuroto Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang yang jaraknya sekitar 5 km dari Gardu pandang Ketep Pass. Jika berangkat dari Kota Yogyakarta memerlukan dua jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua.

Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Suwanting ini terkenal indah dan memiliki pemandangan sabana yang menarik perhatian pendaki gunung. Jalur ini memiliki tiga Pos (Pos Lembah Lempong, Pos Selter Bendera, dan Pos Ndampo Awang). Pendaki dapat mendirikan tenda di pos 2 dan pos 3 karena lokasinya cukup luas dan pemandangannya sungguh indah dengan latar belakang Gunung Merapi.

Di Jalur ini pendaki tidak perlu khawatir kekurangan air, karena di sepanjang jalur pendakian memiliki tiga pos air yang bisa di gunakan untuk konsumsi, Pos air terletak di bawah Lembah cemoro, Lembah manding dan terakhir di bawah pos 3. Setelah dari pos 3, pendaki akan melewati sabana yang menyejukkan. Jika berkunjung pada musim penghujan atau kisaran bulan MeiAgustus, pendaki akan menemui padang rumput berwarna hijau.

Nah, sesuai slogan sukanyasar.com. Nyasar adalah sebuah perjalanan. Maka sebenarnya puncak Gunung Merbabu ya hanyalah sebuah kawah putih biasa. Namun perjalanan mencapai kawah tersebutlah yang menjadikan kawah putih biasa ini menjadi unik dan spesial bagi setiap penyasar yang memiliki kesungguhan hati dan determinasi yang tinggi untuk mencapai puncaknya. Salam Nyasar!

 

 

 

Contact

Contact
  • Address
    Jawa tengah
  • Category
    Alam Perawan
  • Location
    Jawa Tengah
  • Tags
    cunthel, gunung, gunung merbabu, jalur pendakian, kopeng, magelang, makhluk halus, merbabu, mistis, mitos, pendakian, puncak, salatiga, selo, suwanting, thekelan, wekas

Informasi tambahan

Informasi tambahan
  • Jam Buka
    24 jam
  • Harga
    -
  • Patokan Terdekat
    magelang, boyolali, semarang
  • Koneksi Internet
    mistis
  • Situasi
    Alami

Location

Gunung Merbabu, 3145 mdpl dengan 5 Jalur Pendakian
Get directions

Contact

Gunung Merbabu, 3145 mdpl dengan 5 Jalur Pendakian
  • By Denny Tamtama
  • Email: opleh@hotmail.com

Ratings

Gunung Merbabu, 3145 mdpl dengan 5 Jalur Pendakian

Apa Kata Mereka

0

0 Total
Review dan rating merupakan penilaian subjektif.
Tim Suka Nyasar tidak melakukan review eksklusif dan sepihak.
Pelayanan
0.0%
Lokasi
0.0%
Kualitas
0.0%
Fasilitas
0.0%
Tingkat Kesulitan
0.0%