Taman Doa Gua Maria Mojosongo

Description

Description

Gua Maria Mojosongo merupakan sebuah tempat ziarah bagi umat Katholik yang terletak di sebelah utara kota Solo, Jawa Tengah. Tempat nyaman untuk berdoa. Lokasinya berada di jalur Mojosongo – Boyolali sehingga para traveller dapat dengan mudah mencapainya. Untuk mencapainya para traveller dapat melalui tol trans jawa dengan menggunakan pintu keluar Solo/Karanganyar. Lalu kemudian mengikuti petunjuk arah menuju ke Mojosongo.

Bagi traveller yang datang melalui Bandara Adisumarmo, ambil jalan ke arah timur menuju ke jalan Ahmad Yani. Kemudian dilanjutkan melalui jalan raya Mojosongo sejauh 5 kilometer untuk mencapai Gua Maria ini.

Sejarah Goa Maria Mojosongo

Gua Maria Mojosongo ini awalnya di gagas oleh rohaniwan yang bernama Romo Suntono, Pr pada bulan november 1983. Tempat doa ini awalnya hanya berbentuk padang belukar dan hanya terdapat sebuah salib besi di tengahnya. Kemudian setelah di benahi. Akhirnya pada hari natal 1983, taman ini diresmikan oleh Keuskupan Agung Semarang melalui Uskup Agung (Alm.) Mgr. Julius Darmaatmadja.

Tempat Doa ini tidak begitu luas apabila di bandingkan dengan beberapa tempat Doa lainnya seperti Gua Maria Kerep maupun Gua Maria Sendangsono. Namun penataannya yang asri membuat para traveller lebih nyaman untuk berbincang dengan Tuhan. Bagi umat Katholik ,taman doa ini merupakan tempat favorit untuk sejenak berpisah dari rutinitas kehidupan. Untuk kemudian melepaskan jubah ego (harga diri – red) dan menyadari betapa kecil diri kita di hadapan Tuhan.

Per Mariam Ad Jesum adalah bahasa latin yang berarti menuju Yesus melalui Bunda Maria. Menggambarkan makna pentingnya tempat doa bertema Gua Maria bagi umat Katholik.

Daya Tarik Goa Maria Mojosongo

Memasuki tempat ini para traveller dapat memarkirkan kendaraannya di seberang lokasi ataupun di sampingnya. Tempat parkiran utama yang berada di samping lokasi terdapat sebuah bungalow bagi  traveller untuk sejenak melepaskan lelah. Bungallow  itu sudah dilengkapi dengan media tikar atau karpet yang dapat di gunakan untuk sekedar berbaring sejenak. Atau  biasa juga digunakan untuk membuka bekal makanan yang telah di persiapkan sebelumnya. Hendaknya para traveller ikut memperhatikan kebersihan tempat ini dengan membuang sampah bekas makanan ke tempat sampah yang telah disediakan.

Lokasi Gua Maria Mojosongo berada di bawah lokasi parkir. Pengelola menyediakan jalur khusus untuk pengguna kursi roda dan jalur tangga untuk pejalan kaki biasa. Tepat disamping fasilitas kamar mandi umum terdapat denah lokasi beserta penjelasan arti dan fungsi objek bangunan sebagai informasi tambahan bagi para traveller.

Para traveller di sambut oleh dua patung Yesus dan Maria yang kedua tangannya terbuka pada gerbang masuk utamanya. Ada sebuah ritual unik yaitu sebelum dan sesudah mengunjungi tempat ziarah ini biasanya umat Katholik menyempatkan diri untuk memegang tangan patung tersebut. Para umat memaknainya sebagai menyambut tangan Tuhan untuk menerima segala berkat yang diberikan.

Namun demikian tidak membuat para umat Katholik ini menjadi umat penyembah patung, karena bagi umat Katholik sendiri, patung tidak lah lebih hanya sebagai gambaran Allah yang hidup, yaitu Yesus sendiri.


Memasuki Gua Maria Mojosongo ini para traveller akan merasakan aura ketenangan yang luar biasa yang di hasilkan dari keheningan suara manusia. Dipadukan dengan gemericik air dan angin sepoi – sepoi yang menembus dedaunan pohon rindang di sekitar bangunan utamanya.

Atap bangunan utama dari Gua Maria Mojosongo di bangun menggunakan tiga atap utama. Ketiganya melambangkan kehadiran Tri Tunggal yang Maha Kudus (Bapa, Putera dan Roh Kudus – yang melandasi dasar iman umat Kristiani) .Dan berbentuk segi lima yang melambangkan 5 perintah Gereja.

Bangunan utama juga memiliki 7 pilar. Dimana setiap pilarnya melambangkan 7 sakramen (ritual dalam agama Katholik yang menjadi simbol dari rahmat Tuhan) yaitu sakramen babtis, sakramen ekaristi, sakramen penguatan, sakramen tobat, sakramen perkawinan, sakramen imamat dan sakramen perminyakan.

Setiap sakramen memiliki fungsi masing-masing yang keseluruhannya memaknai Gereja sebagai tanda kasih Tuhan. Dalam setiap ukiran sakramen di 7 pilar tersebut di bawahnya terdapat nama – nama donatur gereja yang menyumbangkan kelebihannya guna pembangunan Gua Maria Mojosongo.

Melewati pilar utama para traveller dapat melihat Gua dengan patung Maria yang berukuran tidak lebih dari 2 meter . Lokasinya berada di sebelah kanan mimbar. Dan ditengah bangunannya terdapat tulisan latin ‘JESUS HOMINUM SALVATOR’ yang artinya Yesus Sang Juru selamat.

Para traveller dapat duduk bersila sejenak untuk menikmati keheningan sebelum get online dengan Tuhan untuk merekatkan hubungan vertikal antara manusia dengan penciptanya. Para traveller juga diharapkan untuk sign out sejenak dari dunia online sehingga tidak mengganggu para traveller lainnya. Bagi yang membutuhkan ruang yang lebih hening untuk bersimpuh dan bertobat juga untuk memaknai besarnya rahmat Tuhan disediakan juga ruang adorasi ( sebuah ruangan dimana sakramen ekaristi di letakkan sebagai perwujudan Yang Maha Kudus) yaitu tepat di belakang mimbar utama yang pintunya tertulis kapel/adorasi.

Terdapat pahatan – pahatan yang indah di sekeliling bangunan utamanya. Antara lain yaitu pahatan yang digunakan untuk doa jalan salib ( doa untuk mengenang wafatnya Yesus ). Dan juga pahatan doa bapa kami (doa yang diajarkan oleh Yesus). Pahatan doa ini dibuat dengan menggunakan 4 bahasa yaitu bahasa Indonesia, bahasa Latin, bahasa Inggris dan bahasa Jawa.

Di salah satu sudut terdapat sebuah taman kecil yang dilengkapi dengan tempat duduk disekelilingnya. Dan ditengahnya terdapat kolam dengan patung Yesus sedang berlutut. Dibuat menyerupai taman getsemani, tempat dimana Yesus berdoa sebelum di salibkan. Taman ini juga dikelilingi oleh pepohonan yang rindang sehingga para traveller semakin betah berlama – lama di Taman Doa Gua Maria Mojosongo ini.

Para traveller dapat membasuh kaki, muka, bahkan meminum air sendang yang disucikan yang konon memiliki ph (tingkat keasaman air) lebih dari 8.

Rata – rata kunjungan Gua Maria Mojosongo adalah 50-70 pengunjung setiap harinya. Namun jumlah kunjungannya bisa mencapai ratusan pada hari hari libur nasional atau hari raya agama Kristiani.

Bagi para traveller yang ingin berdoa dengan suasana yang lebih hening maka disarankan untuk datang pada hari – hari biasa. Waktu tepatnya adalah pada waktu siang menjelang sore. Dapat juga pada saat pulang kerja sehingga dapat lebih maksimal untuk duduk merenung bahkan menangis meraung – raung sambil memukul dada keras – keras menyadari kebodohan kita dalam menyia – nyiakan hidup.


Catatan khusus : Bagi yang penasaran, umat Katholik tidak menyembah Bunda Maria, namun menghormatinya sebagai Ibu Yesus sebagaimana Yesus sendiri memberikan teladan dengan lebih dulu menghormati IbuNya.

Umat Katholik juga tidak berdoa kepada Bunda Maria namun hanya meminta Bunda Maria untuk mendoakanNya karena menurut Kitab Injil sebagai dasar Iman Katholik, Tuhan Yesus tidak pernah menolak pada saat Ibunya meminta sesuatu. (Baca: Kisah Perjamuan di Kanaa – Yoh 2:1-11)

Contact

Contact
  • Phone
  • E-mail
  • Website
  • Category
    Buat Keluarga, Wisata Religi
  • Location
    Jawa Tengah, Solo
  • Tags
    adorasi, bunda maria, devosi, doa, gua maria, gua maria mojosongo, jateng, jawa tengah, katholik, mojosongo, solo, taman doa, tempat ziarah, wisata, wisata religi, ziarah

Informasi tambahan

Informasi tambahan
  • Jam Buka
    24 jam
  • Patokan Terdekat
    jl. Brigjen Katamso
  • Koneksi Internet
    4g
  • Situasi
    Tenang, Sejuk

Location

Taman Doa Gua Maria Mojosongo
Get directions

Contact

Taman Doa Gua Maria Mojosongo
  • By Denny Tamtama
  • Email: opleh@hotmail.com

Ratings

Taman Doa Gua Maria Mojosongo

Apa Kata Mereka

0

0 Total
Review dan rating merupakan penilaian subjektif.
Tim Suka Nyasar tidak melakukan review eksklusif dan sepihak.
Pelayanan
0.0%
Lokasi
0.0%
Kualitas
0.0%
Fasilitas
0.0%
Tingkat Kesulitan
0.0%