Vihara Buddhagaya Watugong

Description

Description

Vihara Buddhagaya Watugong atau yang biasa yang disebut Vihara Watugong ini terletak di kota Semarang bagian selatan, pintu masuknya tepat berada di depan markas Kodam IV/diponegoro yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan Pudakpayung, Semarang , Jawa tengah. Vihara ini merupakan tempat beribadat umat Budha yang masih aktif di gunakan untuk kegiatan beribadah namun banyak juga umat beragama lain yang sekedar berkunjung untuk kegiatan wisata.Daya tarik utamanya adalah sebuah pagoda yang menjulang tinggi yang bernama Pagoda Avalokitesvara, tingginya mencapai 45 meter dan di tetapkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia (Detik.com). Di dalamnya terdapat rupang (patung – red) Dewi Kwan Im Poo Sat yang mencapai 5 meter. Memiliki nilai artistik tinggi maka tak heran banyak yang memanfaatkan untuk kegiataan foto.

Daya Tarik

Begitu mencapai lokasi Vihara Watugong, anda akan disambut penjaga pos yang ramah, biasanya menanyakan keperluan anda, apakah untuk kegiatan sembayang atau hanya untuk berwisata. tempat parkir yang disediakan cukup luas sehingga mampu menampung 10 bis dalam waktu yang bersamaan.

Replika Stupa Sanchi

Di pintu masuk vihara ini terdapat sebuah batu alam berbahan andesit yang berbentuk Gong, dan dari situ kita bisa mengerti mengapa vihara ini terkenal dengan sebutan vihara Watugong. Tepat di belakangnya kita dapat melihat sebuah gerbang masuk yang merupakan replika gapura Stupa Sanchi, India. Simbol penghormatan sebelum memasuki kediaman Budha Agung, Sang Guru Agung.

Dhammasala

Setelah melewati gerbang masuk atau yang biasa di sebut sebagai Gerbang Sachi itu, anda akan dapat menikmati sebuah bangunan besar yang merupakan bangunan utama kedua setelah pagoda Avalokitesvara yang merupakan bangunan inti dari vihara Watugong ini. Bangunan ini merupakan pusat kegiatan beribadah bersama umat Budha atau yang biasa disebut dengan sebutan tempat puja bakti, selain itu juga merupakan tempat pertemuan para biksu (Rohaniawan agama budha untuk mazhab Mahayana – Wikipedia) untuk kegiatan penahbisan, ruang bersamadhi (bermeditasi- red), atau untuk kegiatan diskusi para biksu dan pertemuan lainnya. Tepat di bawahnya merupakan ruang serba guna yang dapat digunakan untuk kegiatan yang sifatnya lebih umum. Begitu masuk ke bangunan besar ini atau yang biasa  disebut Dhammasala, anda akan terpukau dengan keindahaan rupang Budha yang tinggi yang berada di bangunan utama dan keindahaan setiap detilnya.

Relief Patticasamuppada

Di sepanjang tembok Dhammasala terdapat relief yang menggambarkan hukum sebab akibat yang saling berhubungan. Relief ini oleh umat budha disebut juga dengan sebutan Patticasamuppada, yang jelas merupakan hukum alam yang akan dialami seluruh mahluk sebelum mencapai kebahagiaan tertinggi atau disebut sebagai Nibbana.

Kuti Samadhi

Menyusuri relief Patticasamuppada membawa kita menuju tempat berikutnya yaitu pondokan – pondokan kecil yang terbuat dari kayu ulin. Pondokan – pondokan kecil ini biasa di sebut Kuti Samadhi, yaitu tempat tinggal sementara para bhikku (Rohaniawan agama budha untuk mazhab Theravada – Wikipedia) yang berlatih samadhi. Pondokan ini berjumlah 8 yang setiap namanya berbeda satu dengan yang lain, ke 8 adalah merupakan tempat berlatih untuk mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu Pengertian yang benar (samma – diithi), Pikiran yang benar (samma – sankappa), Ucapan yang benar (samma – vaca), Perbuataan yang benar (samma -kammata), Pencaharian yang benar (samma – ajiva), Daya upaya yang benar (samma-vayama), Perhatian yang benar (samma – sati) dan terakhir adalah Samadhi yang benar (samma – samadhi). Bagi pengunjung yang datang bukan untuk kegiataan beribadat, tempat ini merupakan salah satu spot foto yang menarik namun musti diingat karena Kuti Samadhi ini merupakan tempat bermeditasi maka kegiatan yang berada di sekitar lokasi ini diharapkan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan tidak berisik. Tepat di sampingnya merupakan tempat membeli pernak – pernik dan perpustakaan dimana di tempat ini dapat di baca juga tentang sejarah vihara Watugong ini yang sudah dibangun sejak tahun 1955. Tepat di belakang bangunan ini terdapat Kuti Bhikku yang merupakan tempat tinggal para Bhikku dimana para pengunjung dilarang memasuki area ini tanpa ijin dari petugas.

  

Budha Parinibbana

Keagungan pagoda Avalokitesvara dari vihara Watugong ini tampak semakin jelas begitu anda dekati. Berjalan dari bangunan perpustakaan setelah kita sejenak melihat pernak pernik atau sekedar membaca pustaka guna menambah pengetahuan, Anda akan melewati 8 tiang yang juga disebut tugu Ariya Atthangika Magga yang merupakan simbol pelatihan yang harus ditempuh agar mencapai kebahagiaan tertinggi. Anda juga akan menemukan rupang Budha tidur atau yang disebut juga Budha Parinibbana. Posisi patung Budha ini adalah simbol untuk mengenang wafatnya Sang Budha yang tertidur di bawah dua pohon sala. Mengingat di depan patung ini terdapat altar untuk umat Budha bersembayangan maka di harapkan apabila para pengunjung melakukan kegiatan foto tidaklah dengan menaiki rupang atau duduk di sebelah rupang Budha ini.

 

Pohon Bodhi

Setelah melewati Budha Parinibbana, anda akan menaiki anak tangga utama menuju Pagoda Avalokitesvara. Di tengah – tengah perjalanan anda menaiki tangga ini, anda akan disambut kerindangan sebuah pohon dengan rupang Budha berwarna emas duduk di bawah pohon tersebut. Pohon ini merupakan pohon Bodhi asli yang berasal dari Bodhgaya, India. Pohon yang daunnya menyerupai pohon beringin ini adalah pohon hasil cangkokan dari pohon yang sama dimana di bawah pohon ini Sang Budha, Sidartha Gautama mencapai kesempurnaan. Daunnya memiliki bentuk seperti bentuk hati dan sangatlah rindang. Sekali lagi bagi pengunjung yang ingin menikmati kegiatan berfoto ria juga tidak diperkenankan berfoto di atas rupang Budha duduk itu dan kali ini sudah ada peringatan tertulis  yang di tempatkan di samping rupang tersebut. Meniggalkan pohon Bodhi beberapa langkah ke depan anda akan menyaksikan keagungan, keindahan dan tentunya kemegahaan dari Pagoda Avalokitesvara.

 

Pagoda Avalokitesvara

Pagoda Avalokitesvara ini merupakan pagoda tertinggi di Indonesia, waktu di resmikan. Terdapat 7 tingkat yang memiliki makna tentang 7 tingkatan yang harus di tapaki umat Budha di dunia. Pagoda ini memiliki tiang masuk yang sangat indah berupa ukiran naga yang di datangkan asli dari Tiongkok, Mengingat Pagoda ini di bangun untuk meluhurkan dewi Kwan Im yang dimuliakan oleh umat Budha karena Kasih Sayangnya, maka berbagai ornamen Naga banyak terdapat di dalam pagoda ini karena Naga merupakan hewan transportasi sang Dewi. Luasan Bangunan utamanya berkisar 15 x 15 meter persegi dengan bangunan berbentuk segi 8 atau Pat Kwa. Sebagai perlambangan perlindungan dan berkat bagi seluruh mahluk di segala penjuru mata angin. Didalam bangunan segi delapan itu terdapat rupang Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 5 meter, dan di bagian luarnya juga ditemukan rupang sang Dewi dengan berbagai macam sebutan lainnya.

Bagi umat Budha yang ingin melakukan kegiatan beribadah dapat membeli hio (dupa – red) tepat di pintu masuk pagoda. Namun bagi pengunjung yang ingin berfoto ria juga dapat berfoto namun tidak dari dalam bangunan inti karena dapat mengganggu umat Budha yang sedang beribadah dan tentunya kurang etis. Spot foto terbaik menurut saya adalah dari sudut pohon Bodhi di karenakan bangunan inti akan tampak jelas kemegahaannya.

  

  

Disamping Pagoda Avalokitesvara terdapat 2 gasebo besar sebagai pelengkap Pagoda dan biasa di gunakan oleh para pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum meninggalkan lokasi vihara Watugong membawa pengalaman dan pengetahuan yang baru untuk dikenang. Sekedar untuk diingat, untuk menikmati tempat dengan banyak spot foto yang menarik seperti Vihara Watugong ini, jangan lupa membawa baterai cadangan untuk kamera anda dan lebih pentingnya jangan lupa membawa kameranya – hehe. Dan yang terpenting adalah ketika berkunjung ke tempat wisata religi manapun, diharapkan ikut menjaga ketenangan, dan kesopanan serta pastinya haram hukumnya untuk melakukan tindakan amoral di sekitar tempat wisata religi itu. Saran saya apabila napsu sudah tidak terbendung : Cari kamar hotel! .

Lokasi

Untuk mencapai Vihara ini sangatlah mudah banyak alat trasnportasi umum menuju ke lokasi ini, tak heran karena lokasinya merupakan jalan utama Semarang – Ungaran yang merupakan jalan dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi. Sebelum dibukanya pintu tol Ungaran yang merupakan salah satu pintu tol Jalur Semarang – Solo, jalan ini merupakan satu – satunya jalan menuju kota Ungaran.

Selain Vihara, kota semarang juga banyak wisata religi lainnya lho, untuk klenteng ada sam poo kong, gereja blenduk yang ada di kota lama juga bersejarah banget, ada goa maria pereng juga didaerah getasan, pokoknya komplit kalau ngomongin tempat wisata religi disemarang ini. Buat yang pengen rekreasi muter-muter semarang bisa juga dicek di 7 tempat wisata eksotis disemarang.

 

 

 

Contact

Contact
  • Address
    jalan Perintis Kemerdekaan Pudakpayung, Semarang , Jawa tengah
  • Category
    Buat Keluarga, Wisata Religi
  • Location
    Jawa Tengah, Semarang
  • Tags
    Ariya Atthangika Magga, kwan im po sat, pagoda, pagoda avalokitesvara, pagoda tertinggi, patung dewi kwan im, rupang budha, tempat wisata semarang, vihara, vihara buddhagaya watugong, vihara semarang, vihara watugong, watugong, wisata semarang

Informasi tambahan

Informasi tambahan
  • Jam Buka
    07:00-21:00
  • Harga
    Sukarela
  • Patokan Terdekat
    Markas Kodam IV Diponegoro
  • Koneksi Internet
    4G
  • Situasi
    Sejuk dan Tenang

Location

Vihara Buddhagaya Watugong
Get directions

Contact

Vihara Buddhagaya Watugong
  • By Denny Tamtama
  • Email: opleh@hotmail.com

Ratings

Vihara Buddhagaya Watugong

Apa Kata Mereka

0

0 Total
Review dan rating merupakan penilaian subjektif.
Tim Suka Nyasar tidak melakukan review eksklusif dan sepihak.
Pelayanan
0.0%
Lokasi
0.0%
Kualitas
0.0%
Fasilitas
0.0%
Tingkat Kesulitan
0.0%